Jumat, 01 Februari 2013


Ketika Niat berbuah Cinta
karya : Rahmawati
FKIP/PBI/VI

Bip..bip..bip..bip.. “Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti ku bawa kau pergi ke surga abadi….” ringtone handphone itu menyadarkan ku dari alam mimpi, kulihat dilayar Hp ku
 1 Pesan Diterima
Ku biarkan mata ku melirik arah jarum jam yang menempel pada dinding kamarku,  tak salah dugaan ku pasti pesan ini darinya, siapa lagi yang akan mengirimi ku sms pada pukul 03.00 pagi. Ku buka pesan itu dengan wajah yang tak lepas dari senyuman..
Dari : Dava Mas’ul LDK  29/12/12  03:10
“Assalamu’alaikum..           
Ukhti mari kita tunaikan hak ruh jiwa kita untuk bercinta kepada Sang Pemiliknya. Semoga Allah selalu memudahkan kita untuk melakukan amal-amal shalih”
Mata ku membaca tiap huruf yang berjejer rapih pada pesan singkat malam itu, ku baca lagi, tapi tak puas, ku baca sekali lagi tapi tak kunjung aku ingin menyudahinya akhirnya ku baca lagi, lagi dan lagi,hal ini telah kesekian kalinya terjadi, dia mengingatkan ku untuk Qiyamul Lail dengan mengirimi ku sebuah pesan indah, tak kuasa menahan gembira ku ambil hp ku, tak ragu ku sentuh tiap huruf dilayarnya, dengan jantung yang seolah ingin keluar dari tempatnya. setelah beberapa saat ku siap mengirim balasan pesan untuknya..
Kepada: Dava Mas’ul LDK 29/12/12 03:15
“walaikumussalam wr wb”
Jazakallah khair akhi, semoga jiwa-jiwa kita dipenuhi dengan nikmat beriman kepadaNya”
Tak tau mengapa meski ini bukan kali pertamanya dia membangunkan ku untuk qiyamul lail tapi perasaan senang itu masih saja bercokol dihatiku bahkan semakin hari semakin senang.. ku tunggu sampai beberapa saat hingga balasan darinya tiba dengan ditandai nasyid edcoustic nantikan ku dibatas waktu
Bip..bip..bip..bip.. “Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti ku bawa kau pergi ke surga abadi….”
Ku baca perlahan sambil senyuman menyungging dibibir ku..
Dari : Dava Mas’ul LDK 29/12/12 03:20
“Insyallah ukhti selama kita masih berada pada jalan da’wah ini, tetap semangat ya ukhti untuk da’wahnya J ”.
Subhanallah begitu luar biasa al akhi ini dalam semangat da’wahnya , ya kalau dibandingkan dengan ku memang sangat jauh berbeda, aku mengenal nya saat pertama kali aku resmi menjadi anggota Lembaga Da’wah dikampus ku, dan saat itu pulalah tarbiyah mulai menyentuh hatiku.
***
Pagi ini aku harus segera tiba dikampus, aku dan teman-teman seangkatan ku lainnya harus rapat atau bahasa kerennya “syuro” untuk membahas kepanitiaan acara yang akan kami buat untuk penyambutan mahasiswa baru, tapi rasanya langit sudah menunjukan warna keemasannya, ya aku datang terlambat ku lihat jam ditangan ku telah melewati 20 menit dari janji yang ku buat untuk syuro hari ini, tapi tak apalah yang lain pun sering melakukannya dengan dalih “akhi, ukhti afwan ane telat… bla bla bla..”. tiba diruang syuro, ku rasakan jantungku berhenti dari kebiasaan berdetaknya, tak ku sangka bahwa dirinya lah yang memimpin syuro hari ini,, tiba-tiba wajah ku pucat mengingat komunikasi kami tadi malam, tetapi kami bersikap seperti layaknya yang lainnya, datar, kaku, dingin, pun kalau memang terpaksa harus berbicara hanya hal-hal yang memang diperlukan, beda sekali dengan komunikasi kami ketika didunia non tatap wajah.
Setelah syuro hari itu berakhir aku segera pulang bersama nisa teman satu fakultas yang kini sama-sama diamanahkan pada departemen kaderisasi, ketika diperjalanan pulang kami mengobrol ringan sambil berjalan perlahan, “Nay.. kamu sekarang semakin aktif ya diLDK,, aku salut sama semangat da’wah kamu nay” puji nya antusias.  “Alhamdulilah nis aku semakin yakin kalau ini jalan yang Allah ridhai, jadi tidak ada alasan untuk kita kehilangan semangat da’wah, karna nanti Allah yang akan menggaji kita” jawabku agak diplomatis. “kamu bener nay, aku juga ingin berkontribusi lebih banyak untuk da’wah ini” sambungnya, “oya nis ngomong-ngomong ka Dava itu kaka senior kamu ketika diSMA ya?” Tanya ku selidik, “iya nay,, ka Dava dulu pernah menjabat menjadi ketua rohis ketika diSMA ku nay” jawabnya sambil agak melompat demi menghindari kubangan air bekas hujan tadi malam. “ tapi kenapa kamu menanyakan hal itu nay?” Tanya nya agak curiga.    “hmmm.. aku Cuma mau tau aja ko nis, menurut kamu beliau orang yang seperti apa?” Tanya ku mulai penasaran.  “dia baik ko nay, bertanggungjawab, bijaksana, dan perhatian sama jundi-jundinya” jawabnya sambil seolah tengah membayangkan wajah dan karakter dava selama ini... “ apa kamu juga sering mendapat perhatian itu nis”? sambung ku dengan terburu-buru. “selama ini perhatiannya wajar dan sesuai koridor syariat ko nay” jawabnya dengan tenang. “tapi kenapa kamu menanyakan ini semua sih nay”? sambungnya penasaran. “ ehh.. udah hampir sampe tuh nis” jawabku mengakhiri percakapan kami siang itu.
Kami tinggal diasrama yang terletak tak jauh dari kampus kami demi membuat da’wah kami menjadi mobile dengan dekatnya jarak tempat tinggal kami dan kampus, mungkin jika tinggal bersama orangtua ku diTanggerang aku tidak mudah mendapat izin untuk pulang malam dengan alasan syuro atau agenda da’wah lainnya. Setiba dikamar ku rebahkan tubuhku ditempat tidur ukuran 2x1 meter dengan mata ku jauh menerawang ke langit-langit kamar, tiba-tiba wajahnya terbayang ketika sedang memimpin syuro hari ini.
Bip..bip..bip..bip.. “Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti ku bawa kau pergi ke surga abadi….”
Lagi-lagi suara itu menyadarkan ku dari lamunan, “wah mungkin itu pesan darinya..”  gumam ku dalam hati,  bagai cahaya kilat ku melompat dari tempat tidur ku sambil menyisir setiap sudut ruangan itu dan mengingat-ingat  dimana terakhir kali ku letakan hp ku, dan akhirnyaaaaaaaaa aku menemukan mu hape ku… J
Tak sabar ku buka pesan itu, huruf-huruf yang behimpun menjadi satu membentuk dua buah kata dan satu klausa itu kini terasa begitu indah bagiku, yup tulisan  1 Pesan Diterima yang kini tengah ku lihat dilayar hape ku, dalam hati ku bertanya-tanya kira-kira apa yang telah ia tulis dalam pesan singkat itu setelah baru saja kita bertemu pada syuro hari ini, setelah ku sentuh pilihan “buka” pada layar hape ku, dan membaca siapa pengirimnya ku helakan nafas panjang sambil menyentuh layar hape ku ke atas dan ke bawah, yang merupakan bagian dari wujud kekecewaan ku.
Dari : Ukhti Nadia 30/12/12  14:12
Assalamu’alaikum ukhti Naya insyAllah besok kita akan melakukan konsolidasi dengan pak Rektor terkait islamisasi kampus, hal-hal yang terkait pembahasan kita besok sudah ana kirim ke group LDK Al-Intisyar. Mohon kehadiranya ya ukhti, jazakillah khair. wss

Meski itu bukan darinya tapi ku coba untuk tetap tersenyum karna besok pun kami tetap akan bertemu, segera ku balas pesan singkat itu..
Kepada : Ukhti Nadia 30/12/12 14:15
“Walaikumussalam ukht, InsyAllah ana hadir, kira-kira siapa saja besok yang mungkin bisa hadir, ka Dava bisa ikut?”
Ku tunggu untuk beberapa saat sampai pesan baru tiba….
Bip..bip..bip..bip.. “Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti ku bawa kau pergi ke surga abadi….”
Dari : Ukhti Nadia 30/12/12 14:18
“Alhamdulilah kalau memang bisa hadir,, kemungkinan besok hanya 5 orang ukh, perwakilan dari tiap-tiap departemen angkatan 2010, kalau ka Dava sepertinya besok beliau ada agenda dikampus tetangga, anti ada perlu sama beliau ukh?”
“Hah… ka Dava tidak bisa hadir.. bagaimana bisa begitu.. kalau memang demikian kenapa aku harus hadir besok , ya sudahlah aku tak usah hadir untuk konsolidasi besok, toh sudah banyak yang mewakili dari departemen lain”.
Ku balas pesan yang mengecewakan dari ukhti nadia dengan sedikit beralasan tentang agenda yang akan aku lakukan esok hari.
Kepada : Ukhti Nadia 30/12/12 14 : 20
“oh begitu ya ukhti, iya mudah-mudahan besok ane tidak ada agenda ya.. jazakillah atas infonya”
Siang itu ku biarkan diri ku terjaga dalam lelapan, setelah seharian melakukan aktivitas, ternyata tanpa ku tahu beberapa panggilan tak terjawab telah bertengger dilayar hape ku.. dan nama si penelpon itu adalah Dava “ini telp dari Dava,, ada apa dia sampai menelpon ku? Apa aku harus menelponnya kembali?” pertanyaan itu datang bertubi-tubi dalam benak ku, entah apa yang aku fikirkan hingga akhirnya ku sentuh nomernya dan kemudian ku pilih panggil, setelah beberapa saat ada suara laki-laki yang menjawab dari ujung sana, kami berbicara cukup lama, membahas bagaimana da’wah, membahas tentang kuliah hingga akhirnya membahas mengenai masalah pribadi kami, dan hal yang  tak ku sangka dava menanyakan tentang bagaiman criteria suami yang aku idamkan, dengan yakin ku jawab “semua yang ada pada diri antum  adalah criteria ana”, sungguh tak dapat ku  bohongi bahwa aku begitu bahagia, hatiku seolah seperti mentari yang terbit yang tengah merekah diufuk barat sana, setelah pembicaran ditelpon sore itu kami semakin menjadi dekat, dia tak sungkan untuk menelpon ku untuk sekedar menanyakan apakah aku sudah makan, atau memberikan ku hadiah dihari milad ku, meski tak pernah ia katakana bahwa ia memiliki rasa padaku, tapi itu bukan hal yang membuat ku sedih atau kecewa, karna sikap dan perhatiannya telah menggambarkan betul bagaimana perasaannya kepadaku, dan kami telah berkomunikasi hampir tujuh bulan tanpa ada seorangpun dari teman kami yang mengetahui atau mencurigai hubungan kami, bahkan dia mengangkat ku sebagai coordinator akhwat disalah satu departemen yang membuat kami semakin dekat karna memungkinkan untuk melakukan aktivitas bersama setiap hari, aku pun semakin aktif pada lembaga ini, sampai suatu ketika dia harus pergi ke bandung untuk melakukan agenda da’wah, dan setiba pulang dari sana entah apa yang terjadi padanya tiba-tiba saja sikapnya berubah, dia bukan dava yang ku kenal, dia asing bagiku, dia menjauhi ku, jangankan mengucapkan salam untukku, melihat wajahkku saja ia enggan melakukannya, ketika kami harus bertemu untuk agenda da’wah ia tak pernah menyapa ku dan seolah tak ada aku dalam agenda tersebut aku berusaha menghubunginya tapi tak pernah ku dapatkan  respon, sungguh aku bingung ada apa sebenarnya, ,aku sampai tidak punya semangat untuk kuliah atau sekedar melakukan syuro, semua fikiran ku terfokus pada satu nama yaitu Dava,  hingga pada suatu pagi, masih ku ingat jelas ketika itu setelah shalat subuh ada telpon masuk yang telah ku kenal betul nomernya, ya itu Dava, tanpa ragu ku jawab sesegera mungkin telp itu, ini adalah kesempatan ku untuk menanyakan sebenarnya ada apa hingga ia menjahuiku seperti ini dan membuat aku menderita dengan perasaan ku sendiri.
Dava: Assalamu’alaikum ukhti
Aku : Walaikumussalam, kenapa kini kau membuat panggilan yang membuat jarak antara kita.
Dava : Afwan ukhti Naya, ana mohon maaf yang sedalam-dalamnya atas sikap ana selama ini yang telah membuat ukhti jatuh ke dalam maksiat.
Aku : maksud kamu apa dav? Aku hanya ingin tau kenapa tiba-tiba kamu menjauhi aku dan seolah tidak mengenal ku disetiap kita bertemu, bahkan tak pernah sekalipun kau membalas pesan atau menjawab telpon ku.

Dava : iya ukhti, ana bersyukur Allah telah menyadarkan ana untuk tidak berhubungan lagi dengan lawan jenis, termasuk ukhti, karna da’wah ini akan kehilangan keberkahannya jika didalamnya banyak kemaksiatan yang dilakukan,  dan ana ingin da’wah ini merengkuh kemenangan karna banyak orang-orang yang ada didalamnya memiliki kedekatan dengan Allah.
Aku:  tapi kenapa dav? Bukan kah selama ini kau menyukai ku?
Dava : tidak ukhti, ana khilaf dengan terus menikmati komunikasi kita yang sebenarnya adalah sebuah kemaksiatan.
Aku : kamu jahat dav.. aku benci kamu, kenapa kamu berikan semua harapan indah itu kepadaku ?
Dava : ana memang jahat ukhti, untuk itu ana mohon kita lupakan semuanya dan mari kita serahkan jiwa kita untuk Allah dan da’wah ini.
Aku : aku sudah tak peduli dengan ucapan mu!  Sambil ku usap air mata ku dan menutup telpon terakhir darinya.
Kejadian itu membuat ku sangat terpukul, orang yang selama ini ku kira menyukai ku tiba-tiba meminta ku untuk melupakan semuanya,tanpa bekas dan tak bersisa.. “ya allah selama ini aku melakukan ibadah kepada mu, ku kenakan jilbab panjang seperti yang kau perintahkan, ku  lakukan agenda demi agenda da’wah tanpa ada rasa lelah, tapi kenapa kau berikan hal ini kepadaku ya Rabb”. Beberapa hari setelah telpon itu ku putuskan untuk menjauh dari hal-hal yang berhubungan dengan lembaga itu, tak lama akju tau alasan dava menjauhi ku karna ia ditekan oleh ustadznya untuk tidak berkomunikasi denganku, ini tak adil, sungguh tak adil untukku,  ku pergi melupakan semuanya, ku menyesal pernah berada didalamnya, ku relakan semuanya dan berhenti untuk berda’wah, buat apa aku berda’wah sedangkan qawwamnya saja mempermainkan perasaan ku, dua tahun mengenal tarbiyah tak cukup menjadikan alasan aku bisa  bertahan disana dengan apa yang telah aku alami, akhirnya aku kembali ke masa jahiliyah ku, ku temui teman-teman ku yang dulu, kerudung ku pun semakin pendek dan transparan, ku lewati hari-hariku untuk bermain dan berkumpul serta jalan-jalan ke mall untuk makan dan menonton dengan teman-teman ku, sempat beberapa kali tanpa sengaja ku bertemu dengan teman-teman ku yang dulu sama-sama berjuang pada da’wah tapi ketika bertemu saat itu ku seolah tak mengenalnya dan mengalihkan pandangan ku dari mereka. Delapan bulan kurang lebih ku jalani hidup ku yang telah berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya, dan pada suatu malam nisa teman ku mendatangi kamarku, dan seolah ingin mencari tau apa yang terjadi padaku, “sebenarnya ada apa hingga semua ini terjadi pada mu nay”? tanyanya lembut, tak terasa air mata ku meleleh dan butiran Kristal itu membahasi pipi ku, malam itu keceritakan semuanya kepada nisa, selama ini memang tak ada tempat ku untuk mencurahkan semua beban-beban yang ku hadapai, tapi setelah menyampaikan semuanya kepada nisa tak kusangka dia tidak marah kepadaku, bahkan senyum indah itu kulihat dari bibirnya, “kamu gak salah ko nay,, kamu hanya perlu memperbaharui niat kamu dalam mengarungi jalan da’wah yang panjang ini, ingat “barangsiapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya”, dan apa yang telah kamu alami adalah ujian dari Allah, seberapa kokoh pendirian kamu seberapa murni niat kamu, jika hanya karna masalah perasaan kemudian kamu memutuskan mundur dari da’wah ini, ini tak adil, ini hanya akan membuat mu semakin terpuruk nay..” aku semakin menangis sesungukan mendengar ucapannya, tak ku sangka selama ini aku memiliki sahabat sejati yang tersembunyi karna aku lebih sibuk memikirkan perasaan ku sendiri. Sejak saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri untuk melupakan dendam-dendam ku, untu memperbaiki diriku dan tentu saja untuk meluruskan dan terus memperbaharui niatku dari hari ke hari dalam menjalani da’wah yang panjang ini, ku mulai tata kembali hidupku dari awal lagi, meski aku tak bisa masuk kedalam lembaga itu lagi karna aku harus pindah kampus demi jarak yang dekat dengan tempat kerja ayahku, tapi hal itu tak membuat semangat ku lemah dalam berda’wah karna ku yakin dimanapun medan da’wah nya yang terpenting adalah amalannya, dunia ku kini begitu indah, dikelilingi oleh orang-orang yang shalih/ha, dan setelah beberapa tahun ku lanjutkan kuliah dikampus baru ku,  kini aku telah lulus dan mendapat gelar sebagai sarjana ekonomi dan ingin melanjutkan sekolah ku pada akhir tahun ini, insyAllah.
***

Pagi itu dikamar ku ketika aku tengah mainkan jari ku pada tombol-tombol laptop, murrobiah atau ustadzah ku menghubungi ku dan menanyakan usia ku -_-“
Em-er : Assalamu’alaikum de… apa kabar? Mba mau Tanya usia kamu saat ini berapa ya?
Aku : walaikumussalam,, alhmdulilah mba, tahun ini ana 22 mba, memangnya ada apa ya?
Em;er : ada ikhwan yang sedang mencari istri, segera buat biodata ya, karna sudah saatnya kamu sempurnakan dienmu, assalamu’alaikum
Aku : walaikumussalam.. tapi mba..
Em;er: tut. Tut. Tut. Tut.
Huhft.. ustadzah ku memang terkenal tak pandai berbasa- basi, tak ada angin tak ada hujan memintaku membuat biodata, tapi apakah aku sudah pantas untuk menikah?. Setelah ku bicarakan dengan orangtua ku, mereka memberikan aku hak sepenuhnya untuk memutuskannya sendiri, akhirnya dua minggu setelah telpon mengejutkan dari ustadzah ku, ku siapkan biodata yang dimintanya,, ustadzah ku berpesan hal yang membuatku kagum dengan ikhwan itu, “de jangan sisipkan foto mu ya, ikhwannya mau menikah dengan niat karna Allah”
Setelah ku istikharahkan biodatanya dan ku musyawarahkan pada keluarga ku akhirnya ku putuskan untuk melanjutkan ta’aruf ini meski belum tau sama sekali bagaimana wujud dari ikhwan itu karna tak ada foto yang ia sisipkan dibiodatanya, yang aku senang adalah dia berasal dari Bogor, ya kota yang tak asing bagiku, karna selama dua tahun lebih aku pernah kuliah diBogor, jadi aku cukup mengerti bagaimana karakter orang-orang disana,, dan akhirnya tibalah hari dimana aku dan ikhwan itu dipertemukan,
Ku kenakan baju yang sederhana dan tidak terlalu banyak berbicara, entah kenapa aku sangat tegang pada hari itu dan kaki ku terasa begitu dingin, mungkin karna selain Dava tak pernah ku berkenalan atau dekat dengan laki-laki,, dan ketika itu sang ustadz meminta kami untuk saling melihat demi tak adanya penyesalan dikemudian hari, ku angkat wajahku dengan perlahan dan hanya berusaha melirikan mata ku ke arahnya tanpa membalikan kan wajahku, setelah mata ku melihatnya aku sangat terkejut, ternyata wajahnya tak asing bagiku, dia adalah orang yang dulu telah ku cintai,dia adalah laki-laki pertama yang membuat daw’wah ku terasa begitu indah karna bisa setiap saat bertemu dengannya,ada apa sebenarnya ini, lalu ku beranikan diriku untuk bertanya “apakah ini sebuah kebohongan kau menuliskan bahwa namamu adalah Muhammad” Tanya ku agak tegas, “tidak ukhti apakah kau lupa bahwa nama lengkap ana adalah “Muhammad Dava Abiyu”. Nama Dava telah lama tak ana pakai semenjak ana lulus kuliah, ana mohon maaf dengan semua ini, jika hal ini membuat mu tak ingin melanjutkan proses kita, ana ridho insyAllah” jawabnya sambil menunduk
Tak kuasa ku menahan tangisku, aku berusaha untuk melupakan semua masa lalu ku tapi kini Allah mempertemukan kami kembali dan kami harus melanjutkan proses ta’aruf kami yang dulu pernah kami jalani tetapi saat ini kami lakukan  dengan cara yang syar’I berbeda dengan ketika kami masih kuliah,  akhirnya setelah beberapa hari istikharah panjang ku putuskan untuk melanjutkan proses ta’aruf ini, bukan karna alasan dia adalah laki-laki yang pernah ku cintai, tetapi demi menjaga kesucian diriku, aku yakin dibalik ini semua tersirat hikmah yang begitu indah, dulu tak bisa aku memilikinya karna niat ku yang tak murni dalam berda’wah, kini ketika telah ku luruskan niat da’wah ku hanya untuk Allah, hingga Allah sendiri lah yang mengantarkannya untuk ku, sampai akhirnya dia mengkhitbah ku dan dua bulan kemudian  kami menikah dengan resepsi yang sederhana dan melanjutkan da’wah kami dalam sebuah keluarga kecil kami hingga da’wah kepada masyarakat, rasanya kami tak memiliki persoalan intern dalam keluarga kami, yang hampir setiap hari kami hadapi adalah masalah ekstern, dan kalimat yang selalu ia katakan adalah “tak hentinya aku mengucap syukur kepada Allah yang telah merelakan bidadari surganya menjadi istriku” Subhanallah dulu aku terpenjara dalam rasa cinta semu yang membuat niat da’wah ku tak lurus tapi kini Allah membalas kesungguhanku dalam memperbaharui niat ku setiap saat hingga kini pangeran yang Allah kirimkan menjadi halal untuk ku.Wawllahua’lam bishawab


Tidak ada komentar:

Posting Komentar