Ketika
Niat berbuah Cinta
karya : Rahmawati
FKIP/PBI/VI
Bip..bip..bip..bip..
“Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti ku bawa kau
pergi ke surga abadi….” ringtone
handphone itu menyadarkan ku dari alam mimpi, kulihat dilayar Hp ku
1
Pesan Diterima
Ku biarkan mata ku melirik arah
jarum jam yang menempel pada dinding kamarku,
tak salah dugaan ku pasti pesan ini darinya, siapa lagi yang akan
mengirimi ku sms pada pukul 03.00 pagi. Ku buka pesan itu dengan wajah yang tak
lepas dari senyuman..
Dari : Dava Mas’ul LDK 29/12/12
03:10
“Assalamu’alaikum..
Ukhti mari kita tunaikan hak ruh jiwa kita untuk
bercinta kepada Sang Pemiliknya. Semoga Allah selalu memudahkan kita untuk
melakukan amal-amal shalih”
Mata ku membaca tiap huruf yang
berjejer rapih pada pesan singkat malam itu, ku baca lagi, tapi tak puas, ku
baca sekali lagi tapi tak kunjung aku ingin menyudahinya akhirnya ku baca lagi,
lagi dan lagi,hal ini telah kesekian kalinya terjadi, dia mengingatkan ku untuk
Qiyamul Lail dengan mengirimi ku sebuah pesan indah, tak kuasa menahan gembira
ku ambil hp ku, tak ragu ku sentuh tiap huruf dilayarnya, dengan jantung yang
seolah ingin keluar dari tempatnya. setelah beberapa saat ku siap mengirim
balasan pesan untuknya..
Kepada: Dava Mas’ul LDK 29/12/12
03:15
“walaikumussalam wr wb”
Jazakallah khair akhi, semoga jiwa-jiwa kita
dipenuhi dengan nikmat beriman kepadaNya”
Tak tau mengapa meski ini bukan kali
pertamanya dia membangunkan ku untuk qiyamul lail tapi perasaan senang itu
masih saja bercokol dihatiku bahkan semakin hari semakin senang.. ku tunggu
sampai beberapa saat hingga balasan darinya tiba dengan ditandai nasyid
edcoustic nantikan ku dibatas waktu
Bip..bip..bip..bip..
“Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti ku bawa kau
pergi ke surga abadi….”
Ku baca perlahan sambil senyuman
menyungging dibibir ku..
Dari : Dava Mas’ul LDK 29/12/12
03:20
“Insyallah ukhti selama kita masih berada pada
jalan da’wah ini, tetap semangat ya ukhti untuk da’wahnya J ”.
Subhanallah begitu luar biasa al
akhi ini dalam semangat da’wahnya , ya kalau dibandingkan dengan ku memang
sangat jauh berbeda, aku mengenal nya saat pertama kali aku resmi menjadi
anggota Lembaga Da’wah dikampus ku, dan saat itu pulalah tarbiyah mulai
menyentuh hatiku.
***
Pagi ini aku harus segera tiba
dikampus, aku dan teman-teman seangkatan ku lainnya harus rapat atau bahasa
kerennya “syuro” untuk membahas kepanitiaan acara yang akan kami buat untuk
penyambutan mahasiswa baru, tapi rasanya langit sudah menunjukan warna
keemasannya, ya aku datang terlambat ku lihat jam ditangan ku telah melewati 20
menit dari janji yang ku buat untuk syuro hari ini, tapi tak apalah yang lain
pun sering melakukannya dengan dalih “akhi, ukhti afwan ane telat… bla bla
bla..”. tiba diruang syuro, ku rasakan jantungku berhenti dari kebiasaan
berdetaknya, tak ku sangka bahwa dirinya lah yang memimpin syuro hari ini,,
tiba-tiba wajah ku pucat mengingat komunikasi kami tadi malam, tetapi kami
bersikap seperti layaknya yang lainnya, datar, kaku, dingin, pun kalau memang
terpaksa harus berbicara hanya hal-hal yang memang diperlukan, beda sekali
dengan komunikasi kami ketika didunia non tatap wajah.
Setelah syuro hari itu berakhir
aku segera pulang bersama nisa teman satu fakultas yang kini sama-sama
diamanahkan pada departemen kaderisasi, ketika diperjalanan pulang kami
mengobrol ringan sambil berjalan perlahan, “Nay..
kamu sekarang semakin aktif ya diLDK,, aku salut sama semangat da’wah kamu nay”
puji nya antusias. “Alhamdulilah nis aku semakin yakin kalau ini jalan yang Allah ridhai,
jadi tidak ada alasan untuk kita kehilangan semangat da’wah, karna nanti Allah
yang akan menggaji kita” jawabku agak diplomatis. “kamu bener nay, aku juga ingin berkontribusi lebih banyak untuk da’wah
ini” sambungnya, “oya nis
ngomong-ngomong ka Dava itu kaka senior kamu ketika diSMA ya?” Tanya ku
selidik, “iya nay,, ka Dava dulu pernah
menjabat menjadi ketua rohis ketika diSMA ku nay” jawabnya sambil agak melompat
demi menghindari kubangan air bekas hujan tadi malam. “ tapi kenapa kamu menanyakan hal itu nay?” Tanya nya agak
curiga. “hmmm.. aku Cuma mau tau aja ko nis, menurut kamu beliau orang yang
seperti apa?” Tanya ku mulai penasaran.
“dia baik ko nay,
bertanggungjawab, bijaksana, dan perhatian sama jundi-jundinya” jawabnya
sambil seolah tengah membayangkan wajah dan karakter dava selama ini... “ apa kamu juga sering mendapat perhatian
itu nis”? sambung ku dengan terburu-buru.
“selama ini perhatiannya wajar dan sesuai koridor syariat ko nay” jawabnya
dengan tenang. “tapi kenapa kamu
menanyakan ini semua sih nay”? sambungnya penasaran. “ ehh.. udah hampir sampe tuh nis” jawabku mengakhiri percakapan
kami siang itu.
Kami tinggal diasrama yang terletak
tak jauh dari kampus kami demi membuat da’wah kami menjadi mobile dengan dekatnya jarak tempat tinggal kami dan kampus,
mungkin jika tinggal bersama orangtua ku diTanggerang aku tidak mudah mendapat
izin untuk pulang malam dengan alasan syuro atau agenda da’wah lainnya. Setiba dikamar
ku rebahkan tubuhku ditempat tidur ukuran 2x1 meter dengan mata ku jauh
menerawang ke langit-langit kamar, tiba-tiba wajahnya terbayang ketika sedang
memimpin syuro hari ini.
Bip..bip..bip..bip..
“Kalau memang kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti ku bawa kau
pergi ke surga abadi….”
Lagi-lagi suara itu menyadarkan
ku dari lamunan, “wah mungkin itu pesan
darinya..” gumam ku dalam hati, bagai cahaya kilat ku melompat dari tempat
tidur ku sambil menyisir setiap sudut ruangan itu dan mengingat-ingat dimana terakhir kali ku letakan hp ku, dan
akhirnyaaaaaaaaa aku menemukan mu hape ku… J
Tak sabar ku buka pesan itu,
huruf-huruf yang behimpun menjadi satu membentuk dua buah kata dan satu klausa
itu kini terasa begitu indah bagiku, yup tulisan 1
Pesan Diterima yang
kini tengah ku lihat dilayar hape ku, dalam hati ku bertanya-tanya kira-kira
apa yang telah ia tulis dalam pesan singkat itu setelah baru saja kita bertemu
pada syuro hari ini, setelah ku sentuh pilihan “buka” pada layar hape ku, dan
membaca siapa pengirimnya ku helakan nafas panjang sambil menyentuh layar hape
ku ke atas dan ke bawah, yang merupakan bagian dari wujud kekecewaan ku.
Dari : Ukhti Nadia 30/12/12 14:12
Assalamu’alaikum ukhti Naya insyAllah besok kita
akan melakukan konsolidasi dengan pak Rektor terkait islamisasi kampus, hal-hal
yang terkait pembahasan kita besok sudah ana kirim ke group LDK Al-Intisyar.
Mohon kehadiranya ya ukhti, jazakillah khair. wss
Meski itu bukan darinya tapi ku
coba untuk tetap tersenyum karna besok pun kami tetap akan bertemu, segera ku
balas pesan singkat itu..
Kepada : Ukhti Nadia 30/12/12
14:15
“Walaikumussalam ukht, InsyAllah ana hadir,
kira-kira siapa saja besok yang mungkin bisa hadir, ka Dava bisa ikut?”
Ku tunggu untuk beberapa saat
sampai pesan baru tiba….
Bip..bip..bip..bip.. “Kalau memang kau
pilihkan aku, tunggu sampai aku datang nanti ku bawa kau pergi ke surga
abadi….”
Dari : Ukhti Nadia 30/12/12 14:18
“Alhamdulilah kalau memang bisa hadir,,
kemungkinan besok hanya 5 orang ukh, perwakilan dari tiap-tiap departemen
angkatan 2010, kalau ka Dava sepertinya besok beliau ada agenda dikampus
tetangga, anti ada perlu sama beliau ukh?”
“Hah…
ka Dava tidak bisa hadir.. bagaimana bisa begitu.. kalau memang demikian kenapa
aku harus hadir besok ,
ya sudahlah aku tak usah hadir untuk konsolidasi besok, toh sudah banyak yang
mewakili dari departemen lain”.
Ku balas pesan yang mengecewakan
dari ukhti nadia dengan sedikit beralasan tentang agenda yang akan aku lakukan
esok hari.
Kepada : Ukhti Nadia 30/12/12 14
: 20
“oh begitu ya ukhti, iya mudah-mudahan besok ane
tidak ada agenda ya.. jazakillah atas infonya”
Siang itu ku biarkan diri ku
terjaga dalam lelapan, setelah seharian melakukan aktivitas, ternyata tanpa ku
tahu beberapa panggilan tak terjawab telah bertengger dilayar hape ku.. dan
nama si penelpon itu adalah Dava “ini
telp dari Dava,, ada apa dia sampai menelpon ku? Apa aku harus menelponnya
kembali?” pertanyaan itu datang bertubi-tubi dalam benak ku, entah apa yang
aku fikirkan hingga akhirnya ku sentuh nomernya dan kemudian ku pilih panggil,
setelah beberapa saat ada suara laki-laki yang menjawab dari ujung sana, kami
berbicara cukup lama, membahas bagaimana da’wah, membahas tentang kuliah hingga
akhirnya membahas mengenai masalah pribadi kami, dan hal yang tak ku sangka dava menanyakan tentang bagaiman
criteria suami yang aku idamkan, dengan yakin ku jawab “semua yang ada pada diri antum adalah criteria ana”, sungguh tak dapat
ku bohongi bahwa aku begitu bahagia,
hatiku seolah seperti mentari yang terbit yang tengah merekah diufuk barat
sana, setelah pembicaran ditelpon sore itu kami semakin menjadi dekat, dia tak
sungkan untuk menelpon ku untuk sekedar menanyakan apakah aku sudah makan, atau
memberikan ku hadiah dihari milad ku, meski tak pernah ia katakana bahwa ia
memiliki rasa padaku, tapi itu bukan hal yang membuat ku sedih atau kecewa, karna
sikap dan perhatiannya telah menggambarkan betul bagaimana perasaannya
kepadaku, dan kami telah berkomunikasi hampir tujuh bulan tanpa ada seorangpun
dari teman kami yang mengetahui atau mencurigai hubungan kami, bahkan dia
mengangkat ku sebagai coordinator akhwat disalah satu departemen yang membuat
kami semakin dekat karna memungkinkan untuk melakukan aktivitas bersama setiap
hari, aku pun semakin aktif pada lembaga ini, sampai suatu ketika dia harus
pergi ke bandung untuk melakukan agenda da’wah, dan setiba pulang dari sana
entah apa yang terjadi padanya tiba-tiba saja sikapnya berubah, dia bukan dava
yang ku kenal, dia asing bagiku, dia menjauhi ku, jangankan mengucapkan salam
untukku, melihat wajahkku saja ia enggan melakukannya, ketika kami harus
bertemu untuk agenda da’wah ia tak pernah menyapa ku dan seolah tak ada aku
dalam agenda tersebut aku berusaha menghubunginya tapi tak pernah ku
dapatkan respon, sungguh aku bingung ada
apa sebenarnya, ,aku sampai tidak punya semangat untuk kuliah atau sekedar melakukan
syuro, semua fikiran ku terfokus pada satu nama yaitu Dava, hingga pada suatu pagi, masih ku ingat jelas
ketika itu setelah shalat subuh ada telpon masuk yang telah ku kenal betul
nomernya, ya itu Dava, tanpa ragu ku jawab sesegera mungkin telp itu, ini
adalah kesempatan ku untuk menanyakan sebenarnya ada apa hingga ia menjahuiku
seperti ini dan membuat aku menderita dengan perasaan ku sendiri.
Dava: Assalamu’alaikum ukhti
Aku : Walaikumussalam, kenapa kini kau membuat
panggilan yang membuat jarak antara kita.
Dava : Afwan ukhti Naya, ana mohon maaf yang
sedalam-dalamnya atas sikap ana selama ini yang telah membuat ukhti jatuh ke
dalam maksiat.
Aku : maksud kamu apa dav? Aku hanya ingin tau kenapa
tiba-tiba kamu menjauhi aku dan seolah tidak mengenal ku disetiap kita bertemu,
bahkan tak pernah sekalipun kau membalas pesan atau menjawab telpon ku.
Dava : iya ukhti, ana bersyukur Allah telah menyadarkan
ana untuk tidak berhubungan lagi dengan lawan jenis, termasuk ukhti, karna
da’wah ini akan kehilangan keberkahannya jika didalamnya banyak kemaksiatan
yang dilakukan, dan ana ingin da’wah ini
merengkuh kemenangan karna banyak orang-orang yang ada didalamnya memiliki
kedekatan dengan Allah.
Aku: tapi
kenapa dav? Bukan kah selama ini kau menyukai ku?
Dava : tidak ukhti, ana khilaf dengan terus menikmati
komunikasi kita yang sebenarnya adalah sebuah kemaksiatan.
Aku : kamu jahat dav.. aku benci kamu, kenapa kamu berikan
semua harapan indah itu kepadaku ?
Dava : ana memang jahat ukhti, untuk itu ana mohon kita
lupakan semuanya dan mari kita serahkan jiwa kita untuk Allah dan da’wah ini.
Aku : aku sudah tak peduli dengan ucapan mu! Sambil ku usap air mata ku dan menutup telpon
terakhir darinya.
Kejadian itu membuat ku sangat
terpukul, orang yang selama ini ku kira menyukai ku tiba-tiba meminta ku untuk
melupakan semuanya,tanpa bekas dan tak bersisa.. “ya allah selama ini aku melakukan ibadah kepada mu, ku kenakan jilbab
panjang seperti yang kau perintahkan, ku
lakukan agenda demi agenda da’wah tanpa ada rasa lelah, tapi kenapa kau
berikan hal ini kepadaku ya Rabb”. Beberapa hari setelah telpon itu ku putuskan
untuk menjauh dari hal-hal yang berhubungan dengan lembaga itu, tak lama akju
tau alasan dava menjauhi ku karna ia ditekan oleh ustadznya untuk tidak
berkomunikasi denganku, ini tak adil, sungguh tak adil untukku, ku pergi melupakan semuanya, ku menyesal
pernah berada didalamnya, ku relakan semuanya dan berhenti untuk berda’wah,
buat apa aku berda’wah sedangkan qawwamnya saja mempermainkan perasaan ku, dua
tahun mengenal tarbiyah tak cukup menjadikan alasan aku bisa bertahan disana dengan apa yang telah aku
alami, akhirnya aku kembali ke masa jahiliyah ku, ku temui teman-teman ku yang
dulu, kerudung ku pun semakin pendek dan transparan, ku lewati hari-hariku
untuk bermain dan berkumpul serta jalan-jalan ke mall untuk makan dan menonton
dengan teman-teman ku, sempat beberapa kali tanpa sengaja ku bertemu dengan
teman-teman ku yang dulu sama-sama berjuang pada da’wah tapi ketika bertemu
saat itu ku seolah tak mengenalnya dan mengalihkan pandangan ku dari mereka.
Delapan bulan kurang lebih ku jalani hidup ku yang telah berubah seratus
delapan puluh derajat dari sebelumnya, dan pada suatu malam nisa teman ku
mendatangi kamarku, dan seolah ingin mencari tau apa yang terjadi padaku, “sebenarnya ada apa hingga semua ini terjadi
pada mu nay”? tanyanya lembut, tak terasa air mata ku meleleh dan butiran
Kristal itu membahasi pipi ku, malam itu keceritakan semuanya kepada nisa,
selama ini memang tak ada tempat ku untuk mencurahkan semua beban-beban yang ku
hadapai, tapi setelah menyampaikan semuanya kepada nisa tak kusangka dia tidak
marah kepadaku, bahkan senyum indah itu kulihat dari bibirnya, “kamu gak salah ko nay,, kamu hanya perlu
memperbaharui niat kamu dalam mengarungi jalan da’wah yang panjang ini, ingat
“barangsiapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan
meneguhkan kedudukannya”, dan apa yang telah kamu alami adalah ujian dari
Allah, seberapa kokoh pendirian kamu seberapa murni niat kamu, jika hanya karna
masalah perasaan kemudian kamu memutuskan mundur dari da’wah ini, ini tak adil,
ini hanya akan membuat mu semakin terpuruk nay..” aku semakin menangis
sesungukan mendengar ucapannya, tak ku sangka selama ini aku memiliki sahabat
sejati yang tersembunyi karna aku lebih sibuk memikirkan perasaan ku sendiri.
Sejak saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri untuk melupakan dendam-dendam
ku, untu memperbaiki diriku dan tentu saja untuk meluruskan dan terus
memperbaharui niatku dari hari ke hari dalam menjalani da’wah yang panjang ini,
ku mulai tata kembali hidupku dari awal lagi, meski aku tak bisa masuk kedalam
lembaga itu lagi karna aku harus pindah kampus demi jarak yang dekat dengan
tempat kerja ayahku, tapi hal itu tak membuat semangat ku lemah dalam berda’wah
karna ku yakin dimanapun medan da’wah nya yang terpenting adalah amalannya,
dunia ku kini begitu indah, dikelilingi oleh orang-orang yang shalih/ha, dan
setelah beberapa tahun ku lanjutkan kuliah dikampus baru ku, kini aku telah lulus dan mendapat gelar sebagai
sarjana ekonomi dan ingin melanjutkan sekolah ku pada akhir tahun ini,
insyAllah.
***
Pagi itu dikamar ku ketika aku
tengah mainkan jari ku pada tombol-tombol laptop, murrobiah atau ustadzah ku
menghubungi ku dan menanyakan usia ku -_-“
Em-er : Assalamu’alaikum de… apa
kabar? Mba mau Tanya usia kamu saat ini berapa ya?
Aku : walaikumussalam,,
alhmdulilah mba, tahun ini ana 22 mba, memangnya ada apa ya?
Em;er : ada ikhwan yang sedang
mencari istri, segera buat biodata ya, karna sudah saatnya kamu sempurnakan
dienmu, assalamu’alaikum
Aku : walaikumussalam.. tapi
mba..
Em;er: tut. Tut. Tut. Tut.
Huhft.. ustadzah ku memang
terkenal tak pandai berbasa- basi, tak ada angin tak ada hujan memintaku
membuat biodata, tapi apakah aku sudah pantas untuk menikah?. Setelah ku
bicarakan dengan orangtua ku, mereka memberikan aku hak sepenuhnya untuk
memutuskannya sendiri, akhirnya dua minggu setelah telpon mengejutkan dari
ustadzah ku, ku siapkan biodata yang dimintanya,, ustadzah ku berpesan hal yang
membuatku kagum dengan ikhwan itu, “de
jangan sisipkan foto mu ya, ikhwannya mau menikah dengan niat karna Allah”
Setelah ku istikharahkan
biodatanya dan ku musyawarahkan pada keluarga ku akhirnya ku putuskan untuk
melanjutkan ta’aruf ini meski belum tau sama sekali bagaimana wujud dari ikhwan
itu karna tak ada foto yang ia sisipkan dibiodatanya, yang aku senang adalah
dia berasal dari Bogor, ya kota yang tak asing bagiku, karna selama dua tahun
lebih aku pernah kuliah diBogor, jadi aku cukup mengerti bagaimana karakter
orang-orang disana,, dan akhirnya tibalah hari dimana aku dan ikhwan itu
dipertemukan,
Ku kenakan baju yang sederhana
dan tidak terlalu banyak berbicara, entah kenapa aku sangat tegang pada hari
itu dan kaki ku terasa begitu dingin, mungkin karna selain Dava tak pernah ku
berkenalan atau dekat dengan laki-laki,, dan ketika itu sang ustadz meminta
kami untuk saling melihat demi tak adanya penyesalan dikemudian hari, ku angkat
wajahku dengan perlahan dan hanya berusaha melirikan mata ku ke arahnya tanpa
membalikan kan wajahku, setelah mata ku melihatnya aku sangat terkejut,
ternyata wajahnya tak asing bagiku, dia adalah orang yang dulu telah ku cintai,dia
adalah laki-laki pertama yang membuat daw’wah ku terasa begitu indah karna bisa
setiap saat bertemu dengannya,ada apa sebenarnya ini, lalu ku beranikan diriku
untuk bertanya “apakah ini sebuah
kebohongan kau menuliskan bahwa namamu adalah Muhammad” Tanya ku agak
tegas, “tidak ukhti apakah kau lupa bahwa
nama lengkap ana adalah “Muhammad Dava Abiyu”. Nama Dava telah lama tak ana
pakai semenjak ana lulus kuliah, ana mohon maaf dengan semua ini, jika hal ini
membuat mu tak ingin melanjutkan proses kita, ana ridho insyAllah” jawabnya
sambil menunduk
Tak kuasa ku menahan tangisku,
aku berusaha untuk melupakan semua masa lalu ku tapi kini Allah mempertemukan
kami kembali dan kami harus melanjutkan proses ta’aruf kami yang dulu pernah
kami jalani tetapi saat ini kami lakukan dengan cara yang syar’I berbeda dengan ketika
kami masih kuliah, akhirnya setelah
beberapa hari istikharah panjang ku putuskan untuk melanjutkan proses ta’aruf
ini, bukan karna alasan dia adalah laki-laki yang pernah ku cintai, tetapi demi
menjaga kesucian diriku, aku yakin dibalik ini semua tersirat hikmah yang
begitu indah, dulu tak bisa aku memilikinya karna niat ku yang tak murni dalam
berda’wah, kini ketika telah ku luruskan niat da’wah ku hanya untuk Allah,
hingga Allah sendiri lah yang mengantarkannya untuk ku, sampai akhirnya dia
mengkhitbah ku dan dua bulan kemudian kami menikah dengan resepsi yang sederhana dan
melanjutkan da’wah kami dalam sebuah keluarga kecil kami hingga da’wah kepada
masyarakat, rasanya kami tak memiliki persoalan intern dalam keluarga kami,
yang hampir setiap hari kami hadapi adalah masalah ekstern, dan kalimat yang
selalu ia katakan adalah “tak hentinya
aku mengucap syukur kepada Allah yang telah merelakan bidadari surganya menjadi
istriku” Subhanallah dulu aku terpenjara dalam rasa cinta semu yang membuat
niat da’wah ku tak lurus tapi kini Allah membalas kesungguhanku dalam
memperbaharui niat ku setiap saat hingga kini pangeran yang Allah kirimkan
menjadi halal untuk ku.Wawllahua’lam bishawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar